Si Pahit Lidah

22 11 2010

Si Pahit Lidah dipercaya oleh orang-orang Sumatera Selatan sebagai orang yang sakti.Kesaktiannya adalah kata-kata yang keluar dari mulutnya akan menjadi kenyataan dan kutukan.Nama aslinya adalah Serunting.Karena kelebihannya itu,orang-orang menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah.Ia juga pernah mengubah Bukit Serut yang awalnya tanah yang gersang menjadi sebuah hutan kayu dan mengabulkan permintaan seseorang pasangan agar dikaruniai anak.Apakah yang dilakukan Serunting hingga menjadi Si Pahit Lidah?Ikutilah cerita Si Pahit Lidah berikut ini.

Alkisah,di daerah Sumidang,Sumatera Selatan,terdapat sebuah kerajaan besar.Di Kerajaan itu terdapat seseorang pangeran yang bernama Serunting.Serunting adalah keturunan dari Raksasa yang bernama Putri Tenggang.Sifat Pangeran Serunting adalah mempunyai rasa iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain.Ia hidup dengan istrinya di kerajaan.Pangeran Serunting memiliki seorang adik ipar atau adik dari istrinya yang bernama Aria Tebing.

 

Serunting memiliki sebuah ladang,begitu pula dengan Aria Tebing.Letaknya bersebelahan dan hanya dipisahkan dengan pepohonan.Di bawah pepohonan itu tumbuhlah tanaman Cendawan atau Jamur.Namun,Cendawan yang tumbuh itu menghasilkan hal yang jauh berbeda.Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas.Sedangkan Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.Hal ini menimbulkan rasa iri pada hati Serunting “Mengapa Cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna?Sedangkan yang menghadap kearah ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas.Ini pasti perbuatan Aria Tebing”.

 

Keesokan harinya,Serunting menghadap Aria Tebing dengan perasaan dendam dan marah.”Hai Aria Tebing,kamu telah brbuat curang kepadaku.Aku tidak terima cendawan yang tumbuh di pepohonan pembatas itu,yang menghadap kearah ladangmu tumbuh menjadi logam emas,sedangkan cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.Ini pasti perbuatan curangmu bukan?!”ucap Serunting kepada Aria Tebing.”Tidak,tidak,Aku tak pernah berbuat curang kepadamu”ujar Aria Tebing membela diri.”Sudahlah,kamu jangan berbohong!dua hari lagi,kita akan berduel,bersiaplah kamu Aria Tebing”ucap Serunting menantang Aria Tebing.Setelah itu,Serunting meninggalkannya.

 

Aria Tebing kebingungan.Ia mencari ide agar dapat mengalahkan Serunting.Ia tahu bahwa Serunting itu adalah orang yang sakti “Bagaimana aku bisa mengalahkan Serunting?Serunting itu orang sakti,tak mungkin aku bisa mengalahkannya”.Setelah lama berpikir,akhirnya Aria Tebing mendapat ide.Ia membujuk kakaknya (istri dari Serunting) untuk memberitahukan rahasia kelemahan Serunting “Wahai kakakku,beritahukanlah rahasia kelemahan suamimu,Serunting,Beritahukanlah!Aku dalam keadaan terdesak,suamimu akan menantangku untuk bertanding.Kalau aku kalah,pasti aku akan terbunuh”.”Maaf adikku,aku tak akan mau mengkhianati suamiku,aku tidak mau memberitahukannya”ucap istri dari Serunting.

 

“Tetapi,bila kau tidak memberitahukannya,nanti aku dibunuh olehnya,aku tidak akan membunuhnya”bujuk Aria Tebing.”Baiklah,akan kuberitahukan.Kesaktian Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin”jawab Istri Serunting memberitahukan kesaktian suaminya.”Terima Kasih,Kak,kau telah menyelamatkanku”ucap Aria Tebing berterima kasih.

 

Keesokan harinya,Serunting menemui Aria Tebing untuk mengadu kekuatan.Sebelum bertanding,Aria menancapkan tombaknya ke ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin.Serunting pun terluka parah.

 

Merasa dikhianati istrinya,Serunting pergi mengembara.Saat ia sampai di Gunung Siguntang,ia berhenti dan bertapa disana.Saat sedang bertapa,ia mendengar suara bisikan gaib “Hai Serunting,mendapatkan kekuatan Gaib?Kalau kamu mau,aku akan menurunkan ilmu itu kepadamu”.Suara itu tak lain adalah suara Hyang Maha Meru.Serunting pun menjawab dan bertanya “Baiklah,wahai Hyang Mahameru,aku mau kekuatan itu”.”Tapi,ada satu persyaratan,Kamu harus bertapa dibawah pohon bambu,setelah tubuhmu ditutupi oleh daun-daun dari pohon bambu itu,kamu berhasil mendapatkan kekuatan itu”ucap Hyang Mahameru.”Baiklah,aku menerima persyaratan itu”ucap Serunting.

 

Serunting pun bertapa dibawah pohon bambu.Tak terasa,dua tahun telah berlalu.Serunting masih bertapa,belum beranjak dari tempatnya bertapa,yaitu di pohon bambu.Daun-daun dari pohon bambu sudah menutupinya.Serunting pun sadar dan beranjak dari tempat itu.Kini kesaktian yang dimilikinya adalah setiap perkataan yang keluar dari mulutnya akan menjadi kenyataan dan kutukan.

 

Pada suatu hari,ia berniat ingin pulang ke kampung halamannya,Sumidang.Dalam perjalanannya,ia mengutuk semua pohon tebu menjadi batu “Hai pohon tebu,jadilah Batu”.Dalam sekejap,pohon-pohon tebu tersebut menjadi batu.Di sepanjang tepi Sungai Jambi,ia mengutuk semua orang yang ia jumpai menjadi batu.Serunting menjadi orang yang angkuh dan sombong.Oleh karena itu,orang-orang menjulukinya dengan nama “Si Pahit Lidah”

 

Saat ia tiba di sebuah Bukit yang bernama Bukit Serut,ia mulai menyadari kesalahannya.Ia mengubah Bukit Serut yang merupakan bukit yang gundul menjadi hutan kayu “Wahai Bukit Serut yang gundul,jadilah kau menjadi bukit yang ditumbuhi hutan kayu!”.Dalam sekejap,bukit itu berubah menjadi hutan kayu.Orang-orang berterima kasih pada Serunting karena telah mengubah Bukit yang gundul itu menjadi Hutan Kayu karena mendapatkan hasil kayu yang melimpah.

 

Saat Serunting tiba di sebuah desa yang bernama Desa Karang Agung,ia melihat sebuah gubuk tua.Di gubuk itu tinggalah sepasang Suami Istri yang sudah tua renta.Mereka hidup sangat miskin.Meskipun mereka sudah tua,mereka bekerja keras mengangkut kayu bakar.Merasa kasihan,Serunting mendatangi sepasang suami istri tua renta itu.Serunting berpura-pura meminta seteguk air minum.

 

Oleh sang nenek,Serunting diberi seteguk air minum.Karena kebaikannya,Serunting akan mengabulkan apa saja yang mereka minta.Mereka hanya ingin dikaruniai seorang anak untuk membantu mereka bekerja.Ketika melihat ada sehelai rambut yang rontok menempel pada baju sang nenek,Serunting mengambilnya.Serunting mengubah rambut itu menjadi seorang bayi “Wahai rambut,jadilah engkau seorang bayi!”.

 

Pasangan tua itu berterima kasih kepada Serunting “Terima kasih nak,semoga engkau diberkahi Tuhan”.Serunting bahagia bisa membantu orang lain.Meskipun kalimat yang keluar dari mulutnya berbuah manis,orang orang masih menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah.Serunting melanjutkan perjalanannya ke Sumidang.Di sisa perjalanannya,Serunting belajar untuk membantu orang lain dan berusaha menolong orang yang kesulitan.





Unok

22 11 2010

Unok merupakan sebuah cerita yang berasal dari Aceh.Bagi sebagian orang,cerita ini mengandung unsur mistis.Cerita Unok menceritakan seseorang makhluk halus atau Aulia yang bertubuh besar dan tinggi,tetapi ia juga sebagai ulama.Ia selalu bersembahyang di Mekkah dan Sholat Jum’at di tanah Gayo.Dikisahkan,ia pernah mendapatkan Wahyu dari Allah Subahanahu wa Taala,sang Tuhan maha Pencipta dan penguasa alam semesta,Bumi,dan seisinya.Wahyu apakah yang ia dapatkan dari Sang Pencipta tersebut?Ikuti kisah Unok berikut ini.

Alkisah,Unok adalah seseorang makhluk halus atau Aulia yang bertubuh besar dan tinggi.Ia juga seseorang muslim atau orang yang beragama Islam dan menjadi seseorang ulama.Bila ia ingin Sholat atau bersembahyang,ia selalu sholat di Mekkah.Sedangkan bila ia ingin menunaikan Sholat Jum’at atau Bersembahyang pada hari Jum’at,karena bagi orang Islam Hari Jum’at adalah hari Suci,Unok menunaikannya di Tanah Gayo,Aceh.Sedangkan kendaraan yang dipakainya belum dapat dipastikan.

 

Dikisahkan,Unok mendapatkan wahyu dari Tuhan yang Maha Kuasa,Sang pencipta dan penguasa langit,bumi,dan seisinya.Tuhannya mengatakan bahwa akan terjadi mala petaka di tanah Gayo yang akan diturunkan oleh Tuhan pada suatu masa,yaitu air bah yang menghancurkan harta benda dan raga manusia ini seluruhnya“Wahai Unok,ingatlah.Pada suatu saat nanti,Aku akan menurunkan sebuah malapetaka pada Tanah Gayo,yaitu air bah yang menghancurkan harta benda dan ragamu seluruhnya”.

 

Oleh karena itu,untuk menyelamatkan diri dan para penduduk Gayo,Unok mencabut pohon kayu berukuran besar yang tumbuh dipinggir Danau Laut Tawar.Unok menarik-narik pohon besar itu dengan melewati lautan yang luas sampai ke Mekkah.Kayu dari pohon besar itu akan ia buat menjadi sebuah perahu besar.Perahu itu rencananya akan digunakan untuk dinaiki para penduduk Gayo dan dirinya untuk menyelamatkan mereka semua pada saat malapetaka tersebut datang.Unok berusaha membuat perahu besar tersebut dari pohon kayu besar yang didapatkannya dari tepi Danau Laut Tawar.Konon,Danau Laut Tawar tersebut menjadi semakin luas seperti keadaannya pada dewasa ini karena bekas Pohon Kayu besar yang dicabut Unok.

 

Dikisahkan pula,Danau Laut Tawar merupakan tempat Putri Kahyangan atau Putri Tujuh sebagai tempat pemandian mereka.Pada saat Putri Bungsu turun,datanglah seorang pemuda yang bernama Malim Dewa mengintai mereka menurut cerita itu.

Pesan Moral:

Jadilah orang yang beriman kepada Tuhan yang Mahakuasa.Sebab,Keimanan yang kuat akan mendatangkan segala kebaikan.





Joko Seger dan Roro Anteng

20 11 2010

Gunung Brahma/Bromo merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di provinsi Jawa Timur.Tingginya 2.392 Meter.Di Gunung Bromo,terdapat sebuah daerah yang bernama Tengger.Disana dilakukan sebuah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Tengger dengan melakukan membuang sesajen kedalam kawah Gunung Bromo sebagai persembahan kepada Jaya Kusuma,anak dari Joko Seger dan Roro Anteng.Nama Upacara itu adalah Kasadha.Upacara ini dilakukan tiap tahun pada bulan Jawa Asyuro.Apakah yang dilakukan oleh Joko Seger sehingga Jaya Kusuma mau mengorbankan dirinya sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo?Ikuti kisah Joko Seger dan Roro Anteng berikut ini

Alkisah,terdapat seseorang raja Majapahit yang meninggalkan negerinya bersama permaisurinya dan beberapa pengikutnya karena kalah melawan putranya sendiri.Mereka pergi ke lereng Gunung Bromo dan membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal mereka.Pada suatu hari,permaisuri melahirkan anak keduanya.Mantan Raja Majapahit yang gelisah menunggu istrinya melahirkan anaknya di luar rumah.Pada tengah malam,akhirnya anaknya berhasil dilahirkan.Anak yang dilahirkan itu perempuan.Sang Raja lalu melihat anaknya “Dinda,anak kita perempuan”.Tetapi,terdapat keanehan pada bayi itu karena bayi itu tidak menangis seperti bayi pada umumnya “Benarkah Adinda melahirkan,mengapa tidak ada suara tangisan bayi?”pikir sang permaisuri.

 

“Betul Adinda,anak kita telah lahir.Lihat,ia terlihat tenang,tidak menangis.Dia terlahir dengan normal dan sehat.Mukanya terlihat tampak bersinar.Karena ia terlihat tenang dan diam,maka aku akan menamakannya Roro Anteng”ucap Sang mantan Raja sembari menunjukkkan bayinya kepada istrinya.

 

Tidak jauh dari tempat itu,terdapat sebuah rumah sederhana yang ditinggali oleh sepasang suami istri.Sang Suami merupakan seorang Brahmana.Pada saat yang bersamaan,sang istri Brahmana melahirkan seorang bayi laki-laki.Bayi itu menangis dengan suara yang amat keras.Karena bayi itu menangis dengan suara yang amat keras,maka bayi itu dinamakan Joko Seger yang artinya laki-laki berbadan segar “Istriku,anak kita menangis dengan suara yang amat keras.Karena itu aku akan menamakan bayi ini Joko Seger”.

 

Tahun telah berlalu.Kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa.Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik,sedangkan Joko Seger tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan perkasa.Karena kecantikkan Roro Anteng,banyak pemuda yang datang untuk meminangnya.Tapi,tak satupun lamaran yang diterima olehnya karena dia telah menjalin kasih dengan Joko Seger dan ia berjanji tidak akan mau menyukai orang lain karena kesetiaan cintanya kepada Joko Seger.

 

Berita tentang kecantikan Roro Anteng sampai kepada seorang raksasa yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo yang bernama Kyai Bima.Mendengar kabar itu,ia langsung datang ke rumah tempat tinggal Roro Anteng untuk meminangnya “Hai Roro Anteng,apakah kamu mau menerima pinanganku?”.Roro Anteng dan keluarganya kebingungan.Bila tidak diterimanya,nanti dusun mereka akan dihancurkan olehnya beserta isinya.Joko Seger tidak bisa tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak isa menandingi kesaktian Kyai Bima.Roro Anteng pun berpikir keras “Kalau aku tidak menerimanya,nanti Bima akan marah”.”Roro Anteng,jawablah pertanyaanku Roro!”ucap Kyai Bima.Akhirnya,Roro Anteng mendapat ide.

 

Ia menolak pinangan Kyai Bima dengan cara yang halus,yaitu mengajukan satu persyaratan kepada Kyai Bima.Syarat yang diajukannya itu ia pikir tidak akan bisa dilakukan oleh Kyai Bima. “Hai Bima,aku menerima pinanganmu dan menjadi istrimu!”.”Ha Ha Ha….Baiklah”ucap Kyai Bima dengan suaranya yang menggelegar.”Hai Bima,aku menerimanya,Tetapi aku mengajukan syarat kepadamu!”.”Apa syaratnya?”tanya Kyai Bima dengan suara yang keras.Roro Anteng yang mendengar suaranya menjadi gugup,tetapi ia berusaha agar tampak tenang.Roro Anteng kemudian berkata “Aku mau engkau untuk membuatkanku danau diatas Gunung Bromo itu,tetapi hanya dalam waktu semalam!”perintah Roro Anteng sambil menunjukkan tempat yang dimaksud.

 

“Ha Ha Ha…kalau itu maumu,aku akan melakukannya,itu sangat mudah bagiku!”jawab Kyai Bima dengan nada angkuh.”Tetapi,Bima,kau harus bisa menyelesaikannya sampai waktu ayam berkokok!”ucap Roro Anteng.Kyai Bima lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Roro Anteng tadi untuk membuat danau di tempat itu.Dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang besar,Kyai Bima dengan percaya diri dan mengumpulkan segenap kekuatannya mengeruk tanah.Hasil kerukan itu akan diisi air agar menjadi danau.Hanya beberapa kali kerukan,Kyai Bima berhasil membuat lubang besar.Kyai Bima mengeruk tanah tanpa mengenal lelah.Roro Anteng pun menjadi cemas melihat Kyai Bima sudah membuat lubang yang besar “Aduh,bagaimana ini,raksasa itu benar-benar sakti?Pasti nanti pagi danau itu sudah selesai.Bagaimana caranya agar aku dapat mengalahkannya?”.

 

Setelah lama berpikir,akhirnya ia menemukan ide.Ia membangunkan para penduduk desa,termasuk tetangga dan keluarganya.Lalu Roro Anteng menyuruh kaum perempuan untuk menumbuk padi di lesung,sedangkan kaum Laki-Laki ia suruh untuk membakar jerami disebelah timur agar kelihatan fajar telah terbit “Wahai saudara-saudaraku,aku meminta kalian agar menciptakan suasana pagi.Hai kaum perempuan,aku perintahkan kau untuk menumbuk padi.Dan kau kaum laki-laki,aku perintahkan engkau untuk mengumpulkan jerami dan dibakar disebelah Timur agar terlihat seperti matahari terbit”.”Baiklah Roro Anteng,kami akan melakukannya”.Lalu,kaum laki-laki dan perempuan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Roro Anteng.

Cahaya kemerah-merahan segera muncul dari arah Timur,disusul dengan suara lesung yang bersahutan.Ayam pun terbangun dan berkokok.Kyai Bima yang menyangka pagi sudah datang pun kesal karena pekerjaannya tidak selesai dan tidak bisa menikahi Roro Anteng “Sial!pagi sudah tiba.Sementara pekerjaanku tidak selesai.Aku tidak bisa menikahi Roro Anteng”seru Kyai Bima dengan kesal.Kyai Bima lalu meninggalkan tempat itu.Tempurung yang dipegangnya dilemparkan dan bertelungkup di tanah.Tempurung itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.Jalan yang dilalui Kyai Bima berubah menjadi sebuah sungai yang sampai sekarang dapat dilihat di hutan pasir Gunung Batok.Sedangkan danau yang belum selesai dibuat oleh Kyai Bima berubah menjadi kawah yang sampai sekarang masih bisa dilihat di kawasan Gunung Bromo.

 

Roro Anteng dan Joko Seger menjadi senang.Tak berapa lama kemudian,mereka berdua menikah dan tetap tinggal di lereng Gunung Bromo.Mereka kemudian membuka desa baru.Desa itu kemudian mereka namakan dengan nama Tengger.Nama ini merupakan gabungan dari nama mereka berdua,Roro An(teng) dan Joko Se(ger).Mereka pun hidup bahagia.

 

Setelah bertahun-tahun menikah,mereka belum juga dikaruniai anak.Karena itu,terjadi keresahan di hati mereka berdua “Dinda,sebenarnya sudah bertahun-tahun kita menjadi suami istri,tetapi mengapa kita belum dikaruniai anak?Padahal kita sudah mencoba berbagai jenis obat”ucap Joko Seger.”Sabarlah Kanda,mungkin nanti kita akan dikaruniai anak.Janganlah cepat berputus asa.Serahkan saja semuanya kepada dewa”ucap istrinya untuk menenangkan hati suaminya.Joko Seger pun bersumpah “Aku bersumpah,bila kita dikaruniai 25 orang anak,salahsatu dari anak kita akan ku persembahkan sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo!”.Setelah suaminya berucap seperti itu,tiba-tiba muncul api dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo.Itu pertanda bahwa doa mereka didengar oleh Dewa.Mereka pun senang dan berterima kasih “Terima Kasih Dewa,terima kasih karena engkau telah mendengarkan permintaan kami.Kami akan menepati janji kami”.

 

Tak berapa lama kemudian setelah itu,Roro Anteng diketahui mengandung.Mereka bertambah senang dan bahagia karena saat yang ditunggu-tunggu tiba.Sembilan bulan kemudian,Roro Anteng melahirkan seorang bayi kembar laki-laki.Ada yang kembar dua,tiga,hingga anak mereka menjadi 25.Kebahagiaan mereka bertambah.Setelah itu,Roro Anteng tidak melahirkan lagi.Mereka mengasuh dan mendidik ke 25 anak mereka dengan ikhlas.Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi dewasa.Nama anak yang paling bungsu adalah Jaya Kusuma.Karena terlena dalam kebahagiaan,Joko Seger menjadi lupa akan janjinya untuk mempersembahkan salahsatu anaknya untuk menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo.

 

Pada suatu malam,ketika Joko Seger tidur,Dewa menegurnya agar menepati janjinya untuk mempersembahkan salahsatu anaknya untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo melalui mimpi “Wahai Joko Seger tepatilah janjimu untuk mempersembahkan salahsatu anakmu untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo!”.Joko Seger pun tersentak kaget dan terbangun.”Aduh,bagaimana ini?Siapa diantara putra putriku yang harus aku persembahkan?Aku sangat menyayangi mereka semua”’Joko Seger yang masih dalam keadaan gelisah pun melanjutkan tidurnya

 

Pada Keesokan harinya,Saat pagi hari,Joko Seger bangun dari tidurnya.Joko Seger pun mulai gelisah karena ia belum menepati janjinya.Makin hari ia semakin gelisah karena belum menepati janjinya.Akhirnya ia ingin menceritakan semuanya kepada anak-anaknya “Apa aku harus membicarakan ini kepada anak-anakku?mudah-mudahan saja ada salahsatu dari mereka yang mau menjadi persembahan”.

 

Joko Seger dan isrinya kemudian mengumpulkan anak-anaknya dalam sebuah pertemuan keluarga.Ia menjelaskan janjinya yang pernah ia ucapkan “Anak-anakku,Ayah sebenarnya mempunyai sebuah janji yang melibatkan kalian”.”Janji apakah itu ayahku?”tanya anak-anaknya.”Sebelum kalian lahir,Ayah dan Ibumu ini sudah lama tidak dikaruniai anak.Padahal Ayah dan Ibumu ini sudah banyak berdoa dan berusaha.Karena Ayah dan Ibumu ini tidak juga dikaruniai anak,maka Ayah mengucapkan sebuah janji yaitu bila Anak ayah ada 25,salah satu dari mereka harus ada yang dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo”jawab Joko Seger sambil menjelaskan.”Lalu,apakah yang melibatkan kami Ayahku?”tanya anak-anaknya.”Apakah salahsatu dari kalian ada yang mau menjadi persembahan di kawah Gunung Bromo?”tanya Sang Ayah.”Ayahandaku,apakah ayahanda tega mengorbankan anak ayahanda sendiri,mengapa ayah berjanji seperti itu?Apakah ayahanda tidak sayang dengan kami?”tanya salahsatu anaknya.

 

“Bukan begitu anakku,aku hanya ingin dikaruniai anak,sehingga ayahmu ini berjanji demi dikaruniai anak.Ayah itu sangat sayang dengan kalian semua,jadi ayah tidak tega untuk mempersembahkan salahsatu dari kamu semua menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo”ucap ayahnya kepada anak-anaknya.”Ampun Ayahanda,Ananda Pokoknya aku tidak mau menjadi persembahan di Gunung Bromo.Kami tidak ingin mati muda Ayahanda”ucap si Sulung.”Iya,kami tidak mau mati dibakar oleh panasnya kawah Gunung Bromo!”ucap putra-putrinya,kecuali si Jaya Kusuma.”Ayahanda,Ibunda,aku mau dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo ayahanda,demi ketenangan ayahanda.Ananda sangat menginginkan bahwa Ayahanda itu bahagia.Biarlah Ananda yang dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo”ucap si bungsu,Jaya Kusuma.Mendengar perkataan Kusuma,semuanya menjadi sedih.”Jaya Kusuma anakku,mengapa kamu berani untuk kami persembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo?Sedangkan kakak-kakakmu tak berani melakukannya”ucap Joko Seger.”Ananda akan melakukan apa saja,termasuk dikorbankan,demi keselamatan penduduk Tengger dan Ayahanda,Ibunda,serta kakak-kakakku.Sekarang,ijinkanlah aku pergi ke kawah Gunung Bromo”ucap Jaya Kusuma.

 

Jaya Kesuma lalu berpamitan kepada kedua orangtuanya “Ayahanda,Ibunda,Ananda akan pergi ke kawah Gunung Bromo.Ananda hanya meminta restu dan doa kalian.Kirimlah hasil ladang ke Ananda dengan menceburkannya ke kawah Gunung Bromo pada setiap terang bulan,tanggal 14 bulan Kasadha.Ananda akan pergi ke kawah sekarang.”Tunggu Kusuma,kami akan ikut ke kawah dan mengajak semua penduduk mengantarmu ke kawah”ucap Joko Seger.Joko Seger lalu memanggil seluruh penduduk Tengger.Setelah itu,Joko Seger,keluarga,dan para penduduk Tengger beserta Jaya Kusuma pergi ke kawah Gunung Bromo.Setelah sampai,Jaya Kesuma menyampaikan pesan kepada rakyat Tengger “Aku akan menceburkan diri kedalam kawah demi ketentraman Rakyat Tengger disini.Kirimkanlah aku hasil ladang pada saat terang bulan,yaitu pada tanggal ke 14 bulan Kasadha.”ucap Jaya Kusuma.Setelah berucap seperti itu,ia menceburkan diri kedalam kawah Gunung Bromo.Tak ada rasa takut yang muncul dari wajahnya.”Jaya Kusuma….Anakku”seru ayahnya dari atas kawah.

 

Untuk mengenang peristiwa itu,para rakyat Tengger melakukan perintah yang pernah diucapkan Jaya Kusuma saat akan menceburkan diri kedalam kawah,yaitu mengirimkan hasil ladang pada tanggal ke 14 bulan Kasadha dengan menceburkannya kedalam kawah tempat Kusuma menceburkan diri.Hal ini terus dilakukan sampai sekarang dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat Tengger.Tradisi ini kemudian dinamakan Tradisi Kasadha.





Aji Saka

12 11 2010

Aji Saka menceritakan seseorang yang pertama kali menciptakan susunan Huruf-huruf Jawa,yang ditulis di sebuah batu yang kemudian dinamakan Carakan.Susunan huruf itu adalah sebagai berikut:

ha-na-ca-ra-ka   da-ta-sa-wa-la   pa-dha-ja-ya-nya   ma-ga-ba-tha-nga

Ada Utusan   Pada Bertengkar   Sama Saktinya        Mati Bersama

Dahulu,di Jawa Tengah,berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Medang Kemulan.Raja dari Kerajaan itu dikenal sangat kejam karena sehari-hari ia memakan daging manusia.Tak ada yang berani menentang perintahnya.Raja itu bernama Prabu Dewata Cengkar.Setiap hari,Patih Jugul Muda selalu sibuk mencarikan manusia untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.Para rakyat Medang Kamulan bila diminta untuk dimakan oleh sang raja pada lari berbondong-bondong karena takut.

 

Sedangkan di Desa Medang Kawit,hiduplah seorang pemuda yang tampan dan sakti mandraguna bernama Aji Saka.Ia selalu ditemani oleh dua pengawal setianya,yaitu Dora dan Sembada.Berita tentang kejahatan Prabu Dewata Cengkar sampai ke telinga Aji Saka.Aji Saka menjadi tidak tega kepada rakyat Medang Kemulan yang selalu menjadi makanan Prabu Dewata Cengkar.Ia pun pergi ke Kerajaan Medang Kemulan untuk menghentikan kekejaman tersebut.

 

Setibanya di Pegunungan Kendeng untuk singgah,Aji Saka menitipkan kerisnya kepada Sembada untuk dijaganya di Pegunungan Kendeng.Aji Saka berpesan jangan berikan kepada siapapun keris itu,karena nanti ia sendiri yang akan mengambilnya.”Baiklah tuanku Aji Saka,aku akan menjaga amanat yang tuan berikan kepada hamba”.Besok,Aji Saka akan melanjutkan perjalanannya ke Medang Kamulan.

 

Esok harinya,Aji Saka melanjutkan perjalanannya ke Medang Kemulan dengan ditemani oleh Dora,sedangkan Sembada menjaga kerisnya di Pegunungan Kendeng.Pada Saat itu,Patih Jugul Muda tidak menemukan Manusia untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.Patih Jugul Muda menjadi bingung “Aduh,sekarang tidak ada lagi manusia yang bisa dimakan tuan Prabu Dewata Cengkar,bagaimana ini.Kalau aku pulang dengan tangan hampa,pasti raja akan marah”.

 

Pada Saat itu juga,datanglah Aji Saka menyerahkan diri untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.Sang Patih Jugul Muda bingung dengan pengorbanan Aji Saka yang mau menjadi makanan sang Prabu karena orang-orang ketakutan bila diminta menjadi makanan sang Prabu “Mengapa kau rela mengorbankan dirimu sebagai makanan sang Prabu,tetapi bila yang lain mereka ketakutan bila diminta menjadi makanan sang Prabu?”.”Bawalah saja aku,aku akan menghentikan kekejaman rajamu itu”ujar Aji Saka.Setelah itu mereka berangkat ke istana.

 

Setibanya di istana,Aji Saka menyampaikan maksudnya untuk menjadi makanan sang Prabu.Tetapi,ia meminta satu permintaan “Apa permintaanmu?”tanya Prabu Dewata Cengkar.Ia meminta agar diberikan sebagian wilayah Kerajaan Medang Kemulan sebesar sorban ikat kepalanya.Sang Prabu menyetujuinya.Lalu,Aji Saka menggelar sorban ikat kepalanya di tanah.Tanpa disangka oleh orang-orang,ternyata Sorban Aji Saka itu besar sekali.Besarnya membentang dari istana,perkampungan,hutan,gunung,sampai lembah Ngarai.Karena itu,seluruh wilayah Medang Kemulan menjadi miliknya.Prabu Dewata Cengkar pun marah besar.Ia pun bertarung dengan Aji Saka.

 

Tiba-tiba,sorban Aji Saka melilit tubuh Prabu Dewata Cengkar.Meskipun bertubuh besar,Prabu Dewata Cengkar yang sudah meronta-ronta tidak bisa melepaskan diri.Ia pun ditenggelamkan ke Laut Selatan yang berombak besar dan tertelan oleh ombak.Para rakyat Medang Kemulan bersorak-sorai menyambut kemenangan Aji Saka dan mengangkat Aji Saka menjadi Raja Medang Kemulan.

 

Pada suatu hari,ia teringat akan kerisnya yang dijaga oleh Sembada.Ia pun menyuruh Dora untuk mengambilkan kerisnya yang dijaga oleh Sembada.

 

Setibanya di Pegunungan Kendeng,Dora bertemu dengan Sembada.Sebelum mengambil keris Aji Saka,mereka berdua berbincang-bincang terlebih dahulu.Lalu,mereka menyampaikan maksudnya untuk mengambil keris Aji Saka.

 

Sembada tidak mau memberikannya karena ia mengemban amanat Aji Saka agar menjaga kerisnya dan tidak memeberikannya kepada orang lain.Tetapi,Dora juga mengemban amanat untuk mengambilkan keris Aji Saka.Akhirnya,mereka bertengkar demi menjaga sebuah amanat.Mereka berdua akhirnya mati.

 

Aji Saka yang sudah menunggu lama menjadi bingung.Ia pun menyusul Dora ke Pegunungan Kendeng.Tetapi,ia melihat kedua pengawalnya mati demi mengemban sebuah amanat.Akhirnya,ia menulis susunan huruf Jawa di sebuah Batu yang kemudian dinamakan Carakan.





Dayang Bandir dan Sandean Raja

12 11 2010

Rumah Bolon merupakan Rumah Adat dari Sumatera Utara.Rumah ini berukir dengan pahatan yang indah.Orang Batak tinggal di rumah ini.Satu Rumah Bolon biasanya ditempati oleh beberapa keluarga sekaligus.Konon,Sandean Raja diyakini sebagai nenek moyang masyarakat Batak Masyarakat Batak menganggap bahwa pernikahan yang ideal adalah  seorang pria dengan anak saudara laki-laki ibunya.

Dahulu,di Sumatera Utara terdapat dua buah kerajaan yang bernama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat.Raja dari Kerajaan Timur kemudian menikahi Adik Perempuan dari Kerajaan Barat dan dikaruniai seorang anak perempuan yang dinamakan Dayang Bandir.Tujuh tahun kemudian,mereka melahirkan lagi seorang anak laki-laki bernama Sandean Raja.

 

Tetapi,ketika anak-anak mereka masih kecil,Raja dari Kerajaan Timur meninggal.Karena Sandean Raja masih kecil untuk menjadi raja,akhirnya diadakanlah sidang kerajaan.Dalam sidang itu,Paman Karaeng diangkat menjadi Raja sementara Kerajaan Timur.Paman Karaeng memanglah ingin menguasai Kerajaan Timur selamanya dari dulu.Karena itu,ia mengambil benda-benda pusaka Kerajaan Timur.

 

Dayang Bandir mengetahui niat jahat Paman Karaeng.Ia lalu menyembunyikan benda-benda pusaka Kerajaan Timur agar tidak diambil Paman Karaeng karena yang pantas memilikinya adalah adiknya,Sandean Raja,sang penerus Kerajaan Timur.

 

Paman Karaeng kaget ketika ia tidak menemukan benda-benda pusaka Kerajaan Timur pada tempatnya.Ia mengetahui bahwa Dayang Bandirlah yang menyembunyikannya.Paman Karaeng lalu membawa Dayang bandir dan Sandean Raja ke hutan dan mengikat Dayang Bandir di atas pohon yang tinggi sehingga Sandean Raja tidak dapat menjangkaunya.Sandean Raja terjatuh berkali-kali dan terluka.

 

Dayang Bandir selalu menghibur Sandean Raja dari atas pohon.Dayang Bandir disiksa oleh Paman Karaeng tanpa diberi makan dan minum.Tubuhnya lemas diatas pohon,hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.Sandean Raja pun kini hidup sendiri.Ruh Dayang Bandir selalu menemani Sandean Raja.Sandean Raja tumbuh menjadi pemuda yang cakap dan pemberani.

 

Sandean Raja berhasil keluar dari hutan dan pergi ke Kerajaan Barat untuk bertemu Raja Soma,adik kandung ibunya.Raja Soma merupakan seorang raja yang arif dan bijaksana,tak seperti Paman Karaeng.Setelah bertemu,Sandean Raja mengatakan kepada Raja Soma bahwa dirinya adalah putra dari Raja Kerajaan Timur.Raja Soma yang merupakan raja yang hati-hati tak langsung percaya bahwa Sandean Raja itu memang betul keponakannya,Sandean Raja karena terdengar kabar,bahwa Sandean Raja dan Dayang Bandir telah meninggal.

.

 

Raja Soma lalu mengajukan syarat kepada Sandean Raja,yaitu adalah memindahkan sebatang pohon dari hutan ke istana Kerajaan Barat agar Raja Soma percaya bahwa sang pemuda itu benar-benar Sandean Raja.“Pindahkanlah sebatang pohon dari hutan ke  istana ini agar aku percaya bahwa kamu adalah keponakanku”.Sandean Raja pun melakukannya. Sandean Raja berhasil memindahkan sebatang pohon ke istana Raja Soma.Raja Soma belum percaya.Ia mengajukan syarat yang kedua yaitu menebas hutan menjadi perladangan “Aku belum percaya denganmu.Karena itu,tebaslah hutan agar menjadi sebuah perladangan!”.Dalam waktu singkat,Sandean Raja berhasil melakukannya.

 

Raja Soma menjadi bingung.Ia kemudian mengajukan syarat ketiga yaitu harus membuatkan Rumah Bolon atau Istana Besar “Aku belum percaya denganmu.Untuk meyakinkanku,buatkanlah aku Rumah Bolon(Istana Besar)untukku!”.Sandean Raja berhasil mendirikan Rumah Bolon dalam waktu tiga hari.Raja Soma masih belum percaya.Ia kembali mengajukan syarat yaitu menunjukkan putrinya diantara gadis-gadis yang berada dalam ruangan yang gelap.Inilah syarat yang paling susah baginya.

 

Tiba-tiba,datang ruh Dayang Bandir menenangkannya.Sandean Raja lalu masuk kedalam ruangan yang gelap untuk menunjukkan sang putri raja diantara gadis-gadis yang ada.Dayang Bandir membantunya.Dan,akhirnya Sandean Raja berhasil melakukannya berkat bantuan kakaknya,Dayang Bandir.Raja Soma pun sekarang telah percaya bahwa pemuda itu adalah keponakannya,Sandean Raja.

 

Raja Soma lalu menikahkan putrinya dengan Sandean Raja.Sandean Raja lalu tinggal di Kerajaan Barat.Tetapi,ia teringat akan amanah ayahnya,yaitu menjadi penerus Kerajaan Timur.Sandean Raja lalu mengadakan perang dan menyerang Kerajaan Timur untuk menyingkirkan Paman Karaeng.Paman Karaeng akhirnya tewas.Sandean Raja berhasil menguasai Kerajaan Timur dengan bijaksana seperti ayahnya.





Pak Lebai Malang

9 11 2010

Pak Lebai adalah seorang guru agama yang tinggal ditepian sebuah sungai didaerah Sumatra Barat. Suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua orang yang sama-sama kaya. Pak Lebai bingung, yang mana yang hendak didatanginya karena pesta itu berlangsung di waktu yang sama, di tempat berjauhan.

Jika ia datang ke undangan yang pertama, yakni di hulu sungai, tuan rumah akan memberinya 2 ekor kepala kerbau. Namun, masakan di sanan konon tidak enak. Lagipula, ia tak terlalu kenal dengan tuan rumah tersebut. Jika ia datang ke undangan kedua, ia akan menerima satu saja kepala kerbau. Namun masakannya enak. Di sana ia juga akan mendapatkan tambahan kue-kue. Lagipula, ia kenal baik dengan tuan rumah tersebut.

Pak Lebai mulai mengayuh perahunya. Namun, ia masih belum juga bisa membuat keputusan, undangan mana yang dipilihnya. Dengan ragu ia mulai mengayuh perahunya menuju hulu sungai. Di tengah perjalanan, ia mengubah rencananya, lalu berbalik menuju hilir sungai. Ketika hilir sungai sudah makin dekat, beberapa tamu terlihat sedang mengayuh perahu menuju arah yang berlawanan. Mereka memberitahukan pada Pak Lebai.

“Kerbau yang disembelih di hilir sangat kurus, Pak Lebai!”

Pak Lebai kemudian berbalik lagi ke hulu, mengikuti orang-orang itu. Sesampai di hulu, ah…. pesta ternyata sudah usai. Para tamu sudah tak ada. Makanan sudah habis. Pak Lebai lalu segera mengayuh perahunya lagi menuju hilir. Di sana pun sama, pesta juga baru saja usai. Sudah sepi, tak ada satu pun undangan yang terlihat. Pak Lebai pun lemas, juga karena kelelahan mendayung ke hulu dan hilir. Ia mulai merasakan lapar, lalu memutuskan untuk melakukan dua hal, yakni memancing dan berburu.

Ia lalu kembali ke rumahnya sebab untuk berburu ia perlu mengajak anjingnya. Ia juga membawa bekal sebungkus nasi. Mulailah ia memancing. Setelah menunggu beberapa lama, ia merasakan kailnya dimakan ikan. Pak Lebai merasa lega. Namun ketika ditarik, pancing itu susah untuk diangkat ke atas. Pak Lebai berpikir, kail itu pasti tersangkut batu atau karang di dasar sungai.

Kemudian ia terjun ke sungai untuk mengambil ikan itu. Berhasil. Ia keluarkan pancing dan ikannya dari lekukan batu. Namun, ups! Begitu ia selesai melakukan hal itu, ikannya malah terlepas. Pak Lebai merasa kecewa sekali. Ia lalu naik ke atas sungai. Sesampainya di atas air Pak Lebai merasa lapar dan ingin memakan nasi bungkus yang dibawanya dari rumah.

Oh, ia juga mendapati nasinya sudah dimakan oleh anjignya! Benar-benar malang nasib Pak Lebai. Kemalangan demi kemalangan didapatinya.

Sejak saat itu, ia mendapat julukan dari orang-orang sekitarnya Pak Lebai Malang.

Sumber:indrasufian.wordpress.com





Banta Berensyah

9 11 2010

Alkisah, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu yang beratapkan ilalang dan beralaskan dedaunan kering dengan kondisi hampir roboh. Kala hujan turun, air dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bangunan gubuk itu benar-benar tidak layak huni lagi. Namun apa hendak dibuat, jangankan biaya untuk memperbaiki gubuk itu, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.

Untuk bertahan hidup, ibu dan anak itu menampi sekam di sebuah kincir padi milik saudaranya yang bernama Jakub. Jakub adalah saudagar kaya di dusun itu. Namun, ia terkenal sangat kikir, loba, dan tamak. Segala perbuatannya selalu diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Terkadang ia hanya mengupahi ibu Banta Berensyah dengan segenggam atau dua genggam beras. Beras itu hanya cukup dimakan sehari oleh janda itu bersama anaknya.

Pada suatu hari, janda itu berangkat sendirian ke tempat kincir padi tanpa ditemani Banta Berensyah, karena sedang sakit. Betapa kecewanya ia saat tiba di tempat itu. Tak seorang pun yang menumbuk padi. Dengan begitu, tentu ia tidak dapat menampi sekam dan memperoleh upah beras. Dengan perasaan kecewa dan sedih, perempuan paruh baya itu kembali ke gubuknya. Setibanya di gubuk, ia langsung menghampiri anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemas. Wajah anak itu tampak pucat dan tubuhnya menggigil, karena sejak pagi perutnya belum terisi sedikit pun makanan.

“Ibu…! Banta lapar,” rengek Banta Berensyah.

Janda itu hanya terdiam sambil menatap lembut anaknya. Sebenarnya, hati kecilnya teriris-iris mendengar rengekan putranya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada sama sekali makanan yang tersisa. Hanya ada segelas air putih yang berada di samping anaknya. Dengan perlahan, ia meraih gelas itu dan mengulurkannya ke mulut Banta Berensyah. Seteguk demi seteguk Banta Berensyah meminum air dari gelas itu sebagai pengganti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah meminum air itu, Banta merasa tubuhnya sedikit mendapat tambahan tenaga. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap wajah ibunya. Lalu, perlahan-lahan ia bangkit dari tidurnya seraya mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.

“Kenapa ibu menangis?” tanya Banta dengan suara pelan.

Mulut perempuan paruh baya itu belum bisa berucap apa-apa. Dengan mata berkaca-kaca, ia hanya menghela nafas panjang. Banta pun menatap lebih dalam ke arah mata ibunya. Sebenarnya, ia mengerti alasan kenapa ibunya menangis.

“Bu! Banta tahu mengapa Ibu meneteskan air mata. Ibu menangis karena sedih tidak memperoleh upah hari ini,” ungkap Banta.

“Sudahlah, Bu! Banta tahu, Ibu sudah berusaha keras mencari nafkah agar kita bisa makan. Barangkali nasib baik belum berpihak kepada kita,” bujuknya.

Mendengar ucapan Banta Berensyah, perempuan paruh baya itu tersentak. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika anak semata wayangnya, yang selama ini dianggapnya masih kecil itu, ternyata pikirannya sudah cukup dewasa. Dengan perasaan bahagia, ia merangkul tubuh putranya sambil meneteskan air mata. Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.

“Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.

Kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah. Tubuhnya yang lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat. Ia sadar bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar. Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras. Namun, ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami perangai saudaranya yang kikir itu.

“Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan. Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja,” ujar Ibu Banta.

“Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu. Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.

Berkali-kali ibunya mencegahnya, namun Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya. Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin. Maka berangkatlah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.

“Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!” hardik saudagar kaya itu.

“Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!” iba Banta Berensyah.

“Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!” saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.

Betapa kecewa dan sakitnya hati Banta Berensyah. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian. Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.

Dalam perjalanan pulang, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara. Raja negeri itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang. Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya. Itulah sebabnya ia diberi nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima. Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.

Mendengar kabar itu, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung. Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya. Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya. Setibanya di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, Banta Berensyah menyampaikan perihal hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya. Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.
“Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa. Saatnya Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu. Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.

Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu. Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.

“Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkanmu walaupun dengan berat hati harus berpisah denganmu,” kata perempuan paruh baya itu.

“Tapi, bagaimana kamu bisa merantau ke negeri lain, Anakku? Apa bekalmu di perjalanan nanti? Jangankan untuk ongkos kapal dan bekal, untuk makan sehari-hari pun kita tidak punya,” tambahnya.

“Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Cukup doa dan restu Ibu menyertai Banta,” kata Banta Berensyah.

Setelah mendapat restu dari ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah semalam suntuk berdoa dengan penuh khusyuk, akhirnya ia pun mendapat petunjuk agar membawa sehelai daun talas dan suling miliknya ke perantauan. Daun talas itu akan ia gunakan untuk mengarungi laut luas menuju ke tempat yang akan ditujunya. Sedangkan suling itu akan ia gunakan untuk menghibur para tukang tenun untuk membayar biaya kain emas dan suasa yang dia perlukan.

Keesokan harinya, usai berpamitan kepada ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke rumah pamannya, Jakub. Ia bermaksud meminta tumpangan di kapal pamannya yang akan berlayar ke negeri lain. Setibanya di sana, ia kembali dibentak oleh pamannya.

“Ada apa lagi kamu kemari, hai anak malas!” seru sang Paman.

“Paman! Bolehkah Ananda ikut berlayar sampai ke tengah laut?” pinta Banta Berensyah.

Jakub tersentak mendengar permintaan aneh dari Banta Berensyah. Ia berpikir bahwa kemanakannya itu akan bunuh diri di tengah laut. Dengan senang hati, ia pun mengizinkannya. Ia merasa hidupnya akan aman jika anak itu telah mati, karena tidak akan lagi datang meminta-minta kepadanya. Akhirnya, Banta Berensyah pun ikut berlayar bersama pamannya. Begitu kapal yang mereka tumpangi tiba di tengah-tengah samudra, Banta meminta kepada pamannya agar menurunkannya dari kapal.

“Paman! Perjalanan Nanda bersama Paman cukup sampai di sini. Tolong turunkan Nanda dari kapal ini!” pinta Banta Betensyah.

Saudagar kaya itu pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan Banta ke laut. Namun sebelum diturunkan, Banta mengeluarkan lipatan daun talas yang diselempitkan di balik pakaiannya. Kemudian ia membuka lipatan daun talas itu seraya duduk bersila di atasnya. Melihat kelakuan Banta itu, Jakub menertawainya.

“Ha… ha… ha…! Dasar anak bodoh!” hardik saudagar kaya itu.

“Pengawal! Turunkan anak ini dari kapal! Biarkan saja dia mati dimakan ikan besar!” serunya.

Namun, betapa terkejutnya saudagar kaya itu dan para anak buahnya setelah menurunkan Banta Berensyah ke laut. Ternyata, sehelai daun talas itu mampu menahan tubuh Banta Berensyah di atas air. Dengan bantuan angin, daun talas itu membawa Banta menuju ke arah barat, sedangkan pamannya berlayar menuju ke arah utara.

Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas daun talas dihempas gelombang samudra, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan memesona. Hampir di setiap halaman rumah penduduk terbentang kain tenunan dengan berbagai motif dan warna sedang dijemur. Rupanya, hampir seluruh penduduk di pulau itu adalah tukang tenun.

Banta pun mampir ke salah satu rumah penduduk untuk menanyakan kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Namun, penghuni rumah itu tidak memiliki jenis kain tersebut. Ia pun pindah ke rumah tukang tenun di sebelahnya, dan ternyata si pemilik rumah itu juga tidak memilikinya. Berhari-hari ia berkeliling kampung dan memasuki rumah penduduk satu persatu, namun kain yang dicarinya belum juga ia temukan. Tinggal satu rumah lagi yang belum ia masuki, yaitu rumah kepala kampung yang juga tukang tenun.

“Tok… Tok… Tok.. ! Permisi, Tuan!” seru Banta Berensyah setelah mengetuk pintu rumah kepala kampung itu.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.

“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?” tanya kampung itu bertanya.

Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan asal-usulnya, Banta pun menyampaikan maksud kedatangannya.

“Maaf, Tuan! Kedatangan saya kemari ingin mencari kain tenun yang terbuat dari emas dan suasa. Jika Tuan memilikinya, bolehkah saya membelinya?” pinta Banta Berensyah.

Kepala kampung itu tersentak kaget mendengar permintaan Banta, apalagi setelah melihat penampilan Banta yang sangat sederhana itu.

“Hai, Banta! Dengan apa kamu bisa membayar kain emas dan suasa itu? Apakah kamu mempunyai uang yang cukup untuk membayarnya?”

“Maaf, Tuan! Saya memang tidak mampu membayarnya dengan uang. Tapi, jika Tuan berkenan, bolehkah saya membayarnya dengan lagu?” pinta Banta Berensyah seraya mengeluarkan sulingnya.

Melihat keteguhan hati Banta Berensyah hendak memiliki kain tenun tersebut, kepala kampung itu kembali bertanya kepadanya.

“Banta! Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu sangat menginginkan kain itu?”

Banta pun menceritakan alasannya sehingga ia harus berjuang untuk mendapatkan kain tersebut. Karena iba mendengar cerita Banta, akhirnya kepala kampung itu memenuhi permintaannya. Dengan keahliannya, Banta pun memainkan sulingnya dengan lagu-lagu yang merdu. Kepala kampung itu benar-benar terbuai menikmati senandung lagu yang dibawakan Banta. Setelah puas menikmatinya, ia pun memberikan kain emas dan suasa miliknya kepada Banta.

“Kamu sangat mahir bermain suling, Banta! Kamu pantas mendapatkan kain emas dan suasa ini,” ujar kepala kampung itu.

“Terima kasih, Tuan! Banta sangat berhutang budi kepada Tuan. Banta akan selalu mengingat semua kebaikan hati Tuan,” kata Banta.

Setelah mendapatkan kain emas dan suasa tersebut, Banta pun meninggalkan pulau itu. Ia berlayar mengarungi lautan luas menuju ke kampung halamannya dengan menggunakan daun talas saktinya. Hati anak muda itu sangat gembira. Ia tidak sabar lagi ingin menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya dan segera mempersembahkan kain emas dan suasa itu kepada Putri Terus Mata.

Namun, nasib malang menimpa Banta. Ketika sampai di tengah laut, ia bertemu dan ikut dengan kapal Jakub yang baru saja pulang berlayar dari negeri lain. Saat ia berada di atas kapal itu, kain emas dan suasa yang diperolehnya dengan susah payah dirampas oleh Jakub. Setelah kainnya dirampas, ia dibuang ke laut. Dengan perasaan bangga, Jakub membawa pulang kain tersebut untuk mempersunting Putri Terus Mata.

Sementara itu, Banta yang hanyut terbawa arus gelombang laut terdampar di sebuah pantai dan ditemukan oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kerang. Sepasang suami-istri itu pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah beberapa lama tinggal bersama kedua orang tua angkatnya tersebut, Banta pun memohon diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui ibunya dengan menggunakan daun talas saktinya. Setiba di gubuknya, ia pun disambut oleh ibunya dengan perasaan suka-cita. Kemudian, Banta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.

“Maafkan Banta, Bu! Sebenarnya Banta telah berhasil mendapatkan kain emas dan suasa itu, tetapi Paman Jakub merampasnya,” Banta bercerita kepada ibunya dengan perasaan kecewa.

“Sudahlah, Anakku! Ibu mengerti perasaanmu. Barangkali belum nasibmu mempersunting putri raja,” ujar Ibunya.

“Tapi, Bu! Banta harus mendapatkan kembali kain emas dan suasa itu dari Paman. Kain itu milik Banta,” kata Banta dengan tekad keras.

“Semuanya sudah terlambat, Anakku!” sahut ibunya.

“Apa maksud Ibu berkata begitu?” tanya Banta penasaran.

“Ketahuilah, Anakku! Pamanmu memang sungguh beruntung. Saat ini, pesta perkawinannya dengan putri raja sedang dilangsungkan di istana,” ungkap ibunya.

Tanpa berpikir panjang, Banta segera berpamitan kepada ibunya lalu bergegas menuju ke tempat pesta itu dilaksanakan. Namun, setibanya di kerumunan pesta yang berlangsung meriah itu, Banta tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja dan sang Putri bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya. Sejenak, ia menengadahkan kedua tangannya berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu ia selesai berdoa, tiba-tiba datanglah seekor burung elang terbang berputar-putar di atas keramaian pesta sambil berbunyi.

“Klik.. klik… klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!! Klik… klik.. klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!!” demikian bunyi elang itu berulang-ulang.

Mendengar bunyi elang itu, seisi istana menjadi gempar. Suasana pesta yang meriah itu seketika menjadi hening. Bunyi elang itu pun semakin jelas terdengar. Akhirnya, Raja dan Putri Terus Mata menyadari bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. Sementara itu Jakub yang sedang di pelaminan mulai gelisah dan wajahnya pucat. Karena tidak tahan lagi menahan rasa malu dan takut mendapat hukuman dari Raja, Jakub melarikan diri melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung di jendela sehingga ia pun jatuh tersungkur ke tanah hingga tewas seketika.

Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata. Pesta pernikahan mereka dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah. Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Raja yang merasa dirinya sudah tua menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah. Banta Berensyah pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di istana. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia bersama seluruh keluarga istana.

Sumber:zona-orang-gila.blogspot.com








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.